AC 24 atau 26 Derajat? Cara Mengukur Sendiri Selisih kWh-nya
Saran "naikkan suhu AC biar hemat" jarang datang dengan angka. Dengan meteran rumah dan buku catatan, kamu bisa mengukur sendiri selisihnya dalam dua minggu.
Saran hemat listrik soal AC hampir selalu sama: naikkan suhunya, pasti hemat. Saran itu benar arahnya, tapi hampir nggak pernah datang dengan angka yang bisa kamu pegang. Berapa kWh yang sebenarnya bergeser kalau remote dinaikkan dari 24 ke 26? Apakah selisihnya cukup besar untuk ditukar dengan tidur yang sedikit kurang sejuk?
Persentase penghematan yang beredar di internet berasal dari kondisi yang nggak kamu ketahui: ruangan seluas apa, AC jenis apa, dinding menghadap matahari atau tidak, di kota mana. Angka dari kamar orang lain bisa meleset jauh di kamarmu sendiri.
Kabar baiknya, kamu nggak butuh alat ukur khusus untuk mencari jawabannya. Meteran listrik di depan rumah, satu buku catatan, dan disiplin mencatat dua kali semalam selama dua minggu sudah cukup. Artikel ini menjelaskan kenapa suhu setelan berpengaruh, cara menyusun percobaannya supaya hasilnya bisa dipercaya, dan cara mengubah angka meteran menjadi rupiah.
Kenapa Suhu Setelan Mengubah Kerja Kompresor
AC nggak "membuat dingin". Ia memindahkan panas dari dalam kamar ke luar rumah lewat refrigeran yang dipompa kompresor. Selama AC menyala, panas terus merembes masuk lewat dinding, jendela, atap, dan celah pintu, dan kompresor harus membuangnya lagi.
Semakin besar selisih antara suhu kamar yang kamu minta dan suhu di luar, semakin deras panas merembes masuk, dan semakin keras kompresor bekerja. Menurunkan setelan dari 26 ke 24 berarti melebarkan jarak itu dua derajat sepanjang malam. Itulah sumber tambahan kWh-nya: bukan angka di remote itu sendiri, melainkan panas tambahan yang harus dibuang.
Inverter dan Non-Inverter Merespons Berbeda
AC non-inverter bekerja seperti saklar. Kompresor menyala penuh sampai suhu tercapai, mati, lalu menyala lagi saat suhu naik. Setelan lebih rendah membuat periode nyalanya lebih panjang dan jeda matinya lebih pendek. Pola ini biasanya terdengar dari unit outdoor yang hidup-mati.
AC inverter mengatur kecepatan kompresor. Setelah kamar dingin, kompresor melambat dan menyala terus dengan daya rendah. Setelan lebih rendah membuatnya bertahan di putaran yang lebih tinggi.
Di kedua jenis, arahnya sama: target lebih dingin, kerja lebih banyak. Yang berbeda adalah besarnya, dan itu nggak bisa ditebak dari label atau brosur. Karena itu artikel ini sengaja nggak menyebut persentase penghematan per derajat. Angka itu harus diukur di kamarmu sendiri.
Membaca Meteran: Token dan Pascabayar Berbeda Arah
Sebelum mulai, pastikan kamu tahu cara membaca meteranmu, karena arah angkanya berlawanan.
Meteran token (prabayar) menampilkan sisa kWh. Angkanya turun selama listrik dipakai. Pemakaian = angka sebelum − angka sesudah.
Meteran pascabayar menampilkan total kWh yang sudah terpakai sejak meteran dipasang. Angkanya naik. Pemakaian = angka sesudah − angka sebelum.


Tips kecil: foto layar meteran dengan HP setiap kali mencatat. Kalau tulisan di buku catatan meragukan, foto itu jadi cadangan. Di meteran token, pastikan nggak ada token baru yang dimasukkan di tengah periode pengukuran, karena angka sisa akan melompat naik dan merusak hitunganmu.
Cara Menyusun Percobaannya
Yang perlu disiapkan:
- Meteran listrik rumah, token atau pascabayar sama saja.
- AC kamar yang biasa dipakai, dengan fitur timer.
- Termometer di teras atau aplikasi cuaca di HP untuk suhu luar.
- Buku catatan kecil yang ditaruh dekat meteran, plus pulpen.
Langkahnya:
- Tentukan jam nyala tetap, misalnya 21.00 sampai 05.00, dan pakai timer AC supaya nggak meleset.
- Tepat sebelum AC dinyalakan, catat angka meteran beserta jamnya.
- Setelah AC mati, catat angkanya lagi.
- Catat suhu luar sekitar jam sembilan malam.
- Pagi harinya, tulis satu kalimat soal tidur: nyenyak, kedinginan, atau kepanasan.
- Tujuh malam di 24°C, lalu tujuh malam di 26°C. Mode, kecepatan kipas, dan arah swing jangan diubah.


Satu kelemahan yang perlu disadari dari awal: meteran mencatat seluruh rumah, bukan AC saja. Kulkas, lampu teras, dan charger ikut terbaca. Cara mengatasinya, biarkan alat lain yang biasa menyala malam tetap sama persis di kedua minggu, dan jangan menyetrika atau memakai pemanas air di jam pengukuran. Karena beban lain itu sama, selisih antara dua minggu tetap bisa dibaca sebagai efek suhu AC, walau angka per malamnya mencakup seluruh rumah.
Catat juga gangguan secara terpisah: pintu kamar yang sempat dibuka lama, tamu yang ikut tidur di kamar, atau malam yang hujan deras atau luar biasa gerah. Malam seperti itu sebaiknya dikeluarkan dari rata-rata.
Tabel sederhana di buku catatan cukup seperti ini:
| Malam | Setelan | Jam mulai | Angka meteran awal | Angka meteran akhir | Pemakaian (kWh) | Suhu luar | Tidur |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 24°C | 21.00 | |||||
| 2 | 24°C | 21.00 | |||||
| … | … | … | |||||
| 8 | 26°C | 21.00 |
Membaca Angka dan Menghitung Rupiahnya
Setelah dua minggu, hitung rata-rata pemakaian per malam untuk masing-masing setelan. Lalu:
- Selisih per malam = rata-rata kWh di 24°C − rata-rata kWh di 26°C
- Selisih per bulan = selisih per malam × 30
- Rupiah per bulan = selisih per bulan × tarif efektif per kWh
Tarif efektif dicari dari struk token (rupiah yang dibayar ÷ kWh yang masuk) atau dari tagihan pascabayar (total rupiah ÷ total kWh). Jangan pakai angka tarif dari internet, karena pajak penerangan jalan berbeda tiap daerah.
Contoh hitungan saja, bukan hasil pengukuran: misalkan rata-rata di 24°C 2,3 kWh per malam dan di 26°C 1,9 kWh per malam. Selisihnya 0,4 kWh. Dengan tarif efektif Rp1.500, maka 0,4 × 30 × 1.500 = Rp18.000 sebulan. Ganti angka-angka itu dengan catatanmu sendiri.
Sebelum menyimpulkan, cek dua hal:
- Bandingkan rata-rata suhu luar kedua minggu. Kalau minggu 26°C kebetulan jauh lebih sejuk, sebagian selisihnya datang dari cuaca, bukan dari remote.
- Lihat sebaran angka per malam. Kalau angka harian dalam satu minggu naik-turun jauh lebih lebar daripada selisih rata-ratanya, hasilnya belum meyakinkan. Perpanjang percobaannya, atau ulangi dengan urutan dibalik: 26 dulu, baru 24.
Terakhir, timbang dengan kualitas tidur. Selisih rupiah yang kecil nggak sepadan kalau kamu jadi sering terbangun kepanasan. Selisih yang besar mungkin layak ditukar dengan kipas angin kecil di samping kasur.
Yang Bisa Kamu Lakukan Sambil Menunggu Hasilnya
- Tutup sumber panas yang masuk. Tirai tebal di jendela yang kena matahari sore dan karet di bawah pintu kamar mengurangi panas yang harus dibuang kompresor, di suhu berapa pun.
- Bersihkan filter AC. Filter yang tersumbat debu membuat aliran udara lemah, sehingga kamar lama mencapai suhu target dan kompresor bekerja lebih panjang.
- Pakai timer, bukan niat. Mematikan AC satu jam lebih awal lewat timer bisa berdampak sebanding dengan menaikkan suhu, dan kamu nggak perlu bangun untuk melakukannya.
- Coba 26°C plus kipas angin. Aliran udara membuat kulit terasa lebih sejuk, dan kipas angin kecil jauh lebih hemat daripada kompresor.
- Jangan sering buka-tutup pintu kamar saat AC menyala. Setiap kali pintu terbuka lama, udara hangat masuk dan kompresor mengejar lagi dari awal.
Perdebatan 24 lawan 26 derajat nggak perlu dimenangkan dengan persentase dari internet. Dua minggu mencatat meteran sudah cukup untuk tahu apakah dua derajat itu berarti buat tagihan listrikmu, atau cuma berarti buat kenyamanan tidurmu.